Bersama Al-Quran

Rasulullah SAW.bersabda bahwa barangsiapa yang di lubuk hatinya tidak ada sedikitpun al-quran maka ia seperti rumah yang runtuh.Itulah hadits yang membuat kita terdorong untuk menggauli al-quran supaya tidak seperti rumah yang runtuh, rumah yang tidak bisa menjadi tempat berlindung dari panas dan hujan, rumah yang tidak bisa menampung keluarga dikala gelap gulita, rumah yang sudah hilang fungsi rumahnya.

Menggauli al-quran tentunya meliputi seluruh aspek menyangkut al-quran, baik itu membacanya, mengartikanya, menghafalnya, maupun mengamalkan ajarannya.Sehingga diakhir cerita kita tidak menjadi rumah yang runtuh, tapi menjadi rumah yang kokoh dan indah, dengan kata lain kita manjadi “rumah idaman”.

Behubungan dengan menghafal al-quran sepertinya hal ini sangat perlu untuk diamalkan dalam kehidupan kita sehari-hari , dengan tidak memandang usia dan kesempatan, karena segala sesuatu tentunya didasarkan pada niat dan tekad yang kuat.Tidaklah perlu kita mengatakan, sudah tua-lah, sibuklah, bahkan yang sangat tidak pantas kita berkeyakinan bahwa hal itu adalah tugas para ahlinya atau tugas para hafidz yang pekerjaannya hanya menghafal al-quran.Sungguh sangat disayangkan apabila kita mampu menghafal berbagai rumus matematika, kimia, ataupun fisika, tetapi tidak memiliki keinginan untuk menghafal al-quran, bahkan alergi terhadap Al-quran.Padahal kita adalah orang islam bahkan sebgian besar kita adalah lahir dari orang tua yang islam.

Adalah betul kalau segala sesuatu itu harus diserahkan kepada yang ahlinya, tapi menghafal al-Quran senantiasa menjadi keahlian setiap insan yang beriman dan menjadikann al-quran sebagai pedoman hidupnya.Idealnya adalah kita menjadi ahli kimia, ahli fisika atau yang lainya, tetapi sekaligus kita menjadi penghafal al-quran, sehingga mampu mewarnai dan menafasi ilmu pengetahuan kita untuk kemaslahatan umat seluruhnya.

Menurut seorang hafidz yang pernah menjuarai musabaqah Hifdzil Quran se-Asean, H Murtadho Habibi, bahwa hal yang paling pertama yang harus dimiliki dalam menghafal al-Quran adalah kecintaan kepada Al-quran. Diantara cara untuk mencapai itu adalah motivasi dari keluarga. Beliau memulai mengenalkan al-quran kepada anak-anaknya sejak dari kandungan ibunya.Bayi yang masih di dalam kandungan senantiasa diperdengarkan al-quran dengan konsisten, sehingga nantinya ayat-ayat itu akan keluar sendiri. Hal ini beliau buktikan dengan hafalnya juz 30 oleh anaknya yang baru berusia empat tahun dua bulan dengan cara didengarkan al-quran ketika sedang dususui atau dari beliau (H Murtadho Habibi) sendiri, atau diputarkan kaset.

Memperdengarkan kaset kepada anak-anak kita, walaupun mereka sambil bermain atau beraktivitas lain, sangat berpengaruh sekali terhadap ingatannya. Al-Hafidz Haji Murtadho Habibi, selalu memperdengarkan bacaan al-quran di tape recorder sejak dini, walaupun ketika mereka mulai menyenanginya, lalu duduk di depan tape dan merusak kasetnya.

Cara memperdengarkan Al-quran yang dilakukan Al-Hafidz Haji Murtadho Habibi pada tahap berikutnya adalah berurutan. Anak tidak dibacakan sambil lalu tapi bertingkat-tingkat, umpamanya hari ini anak dibacakan surat An-naas dan al-falaq saja, lalau pada minggu depannya surat al-iklash dan Al-Lahab saja.

Al-Hafidz Haji Murtadho Habibi, lebih jauh berpendapat bahwa tidak penting memasukan anak ke TK, karena tidak terlalu banyak manfaatnya apalagi untuk Al-Quran.Inti dari pelajaran di TK adalah permainan, maka kalau hanya untuk bermain lebih baik di rumah saja dengan kedua orang tuanya.Usia pra-SD menurut beliau, sebaiknya diaktifkan kecerdasan memorinya, seperti di tradisi Arab yang mengajarkan anak menghafal di usia itu, karena ternyata dengan menghafal membuka kecerdasan.Jadi jangan heran kalau orang Arab banyak yang hafal beribu-ribu hadits, itu karena sudah dibiasakan.Beda dengan di negara kita yang menekankan kepada pemahaman, padahal usia untuk memahami sebaiknya di usia-usia SMP ke atas.

Cara yang kedua adalah Syahsiyyah (kepribadian)nya.Orang yang menghafala harus tahu bahwa menghafal itu bukan sesuatu yang dicoba-coba, tapi harus ada kemauan sendiri, Lillahi Taala untuk mendalami al-quran.Kemudian ditambah dengan motivasi-motivasi lain seperti ikut musabaqah atau kalau kepada anak-anak, kita memberikan hadiah umroh misalnya kalau tamat satu Al-quran.

Metode menghafal sebenarnya tidak ada yang baku, karenacara itu bervariasi tergantung orang. Kalau dilihat secara umum dan dilihat dari ilmu tahfidz Al-Hafidz Haji Murtadho Habibi,menyimpulkan bahwa hal itu tertuju kepada tiga hal.Pertama membaca al-Quran yang baik. Kedua kebiasaan mengaji dalam waktu yang lama dan yang ketiga adalah adanya pembimbing.

2 Responses

  1. Assalammualikum pa Ustad, duh maaf nih mang baru mampir, mang jadi malu sendiri kalo datang ke blog seperti ini, rumasah tara ngaji teu tiasa, teu acan hatam, komo ari sholat mah sok belangbetong keneh, punten ah…
    Kang ini ada link kalo ingin memperbaiki tampilan blog kita mangga dibaca disini http://shannypersonalblog.wordpress.com/2008/10/18/waduh-jadi-ga-enak-hati-nih/
    Hatur nuhun kang
    Wassalam

  2. Duh hatur nuhun mang, infonya bagus sekali.Ke kumaha tah bisnis internet di Ciamis ayaan kitu? asa hoyong lamun nanti pulang kampung euy.tapi perkomputerannya belum yahud uey.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: