Musieum Biologi Siriraj

cawakraya7-6-08

Pagi itu matahari sudah mulai masuk ke kamarku melalui jendela kamar yang selalu terbuka, karena udara kota Bangkok yang selalu panas.Aku sudah siap dengan celana gaya pendaki gunung, tas gendong dan tak lupa memakai topi.

“Tok…tok…tok…” suara pintu diketuk “Ayo kita berangkat, arek-arek sudah pada nunggu di halte bis tuh” kata temanku asal dengan logat Surabayanya yang sangat kental. “ok, aku sudah siap’ jawabku sambil membuka pintu.Nampak temanku dengan “seragam” mirip denganku berdiri di depan pintu kamarku, tapi bedanya dia pakai “ear phone”, mungkin lagi mendengarkan musik atau apa, aku tidak ada urusan untuk nanya.

Kami berjalan ke halte bis tempat dimana anak-anak kelas 3 SMA menunggu. “Assalamu’alaikum”  Ucapku lembut “lho, yang ikut cuma berempat saja nih?” tanyaku pura-pura keheranan, karena memang murid kelas 3 SMA yang ada tinggal 4 orang karena yang 3 lagi pulang ke Indonesia. “emangnya kita ada berapa pak?” kata Tyar muridku yang suka bercanda itu.lalu kita tertawa…gembira…

resize1“Ngomong-ngomong Pa Solihin nandi rek?’ tanya temanku “Kalau ga ada dia…yo repot, dia kan guide-nya” Tiba-tiba muncul dari pinggir First Hotel, seorang pria yang sudah cukup usia tapi kelihatan enerjik dan semangat itu , sambil melambaikan tangannya.Lalu kamipun membalasnya sambil tersenyum gembira.

Kegembiraan kami cukup beralasan karena Pa Solihin, selain sudah berkali-kali ke Musieum yang menyatu dengan Rumah Sakit Siriraj itu , juga beliau adalah guru biologi yang sudah banyak tahu tentang anatomi tubuh, sehingga sedikit banyak bisa menjelaskan kepada kami.Selain itu beliau sudah dua puluh lima tahun tinggal di Bangkok.Sebaliknya kami berenam sama-sama baru akan mengunjungi musieum itu.

“kita nak bis saja yuk, biar rame” kata pa solihin yang diamini oleh kami semua. “wis terserah pimpinan rombongan ae” kata temanku sambil menghabiskan sisa rokoknya yang hampir kena busanya itu.

newHalte atau tempat pemberhentian bis di Thailand (bis kota kalau di Indonesia), benar-benar berfungsi sebagaimana mestinya, artinya semua penumpang naik dan turun dari halte bis itu. Beda dengan di negara kita  yang menaikan dan menurunkan penumpang dimana saja. Halte bis seolah tidak ada gunanya, atau hanya tempat untuk duduk karena bosan berdiri.Jadi waktu itu kami tidak perlu kemana-mana mencari bis karena pasti akan lewat tempat pemberhentian itu, dan memang tidak akan bisa menyetop bis di sembarang tempat.

Kira-kira jam sembilan, kami naik bis yang menuju ke Musieum Siriraj.Alhamdulillah kebetulan bis itu tidak penuh, sehingga kami masing-masing bisa mendapat tempat duduk. “kocrek…kocrek… suara kaleng bulat kecil yang berisi uang bhat recehan dibunyikan oleh kondektur bis sambil menghampiri kami, lalu pa solihin mengeluarkan uang seratus bhat (-+25 ribu rupiah) untuk membayar semuanya, karena beliau sudah berjanji sebelum bernagkat tadi, akan membayar ongkosnya pulang pergi.

“Kita nanti naik bis lagi lho pak” Kata Pak Solihin yang duduk di sampingku.”lalu setelah itu kita akan menyebrangi sungai Chao Phraya” lanjutnya. “lalu?” tanyaku serius.”ya jalan kaki, karena sudah dekat dari situ” “oh…” kataku sambil menoleh ke luar, dan kamipun larut dalam lamunan masing-masing, sampai akhirnya  tiba ti tempat akhir pemberhentian bus yang kami naiki, lalu kami turun dan berjalan sebentar mencari halte bis yang dilewati bis yang melewati penyebrangan sungai chao prhraya.

Kurang lebih jam sepuluh kami sudah tiba di salah satu dermaga penyebrangan sungai Chao Praya. Pa Solihin paling depan tentunya, karena beliau yang akan membeli tiket buat kami. Lalu setelah siap kami masuk antri menuju ke kapal yang sudah mulai penuh.tanpa menunggu lama kapal mulai maju.

“Ini kali ke dua saya akan menaiki kapal laut” kataku dalam hati. Empat tahun yang lalu aku pernah naik kapal laut walau terbawa oleh bis jurusan Bandung-Bengkulu yang menyebrangi lautan menuju pelabuhan Bakau Heuni di Lampung. Selanjutnya  bis menuju ke Bengkulu.

“Hebat ya di Thailand kebersihannya, ga ada sampah sama sekali” kataku pada Pak solihin yang duduk di sebelahku. “Iya Pak, walaupun mereka bukan Islam tapi sudah mengamalkan ajaran Islam.” Kata Pak Solihin dengan senyumnya yang khas. “Tapi itu yang hijau-hijau itu apa pak?” Tanyaku keheranan sambil menunjuk ke arah tumpukan hijau yang bergerak searah gerakan air. “Itu eceng gondok pak.Konon itu didatangkan dari negara kita.” Jawab pa Solihin,sambil menoleh ke Pak ruy temanku yang sedang ngobrol dengan anak-anak, karena kedengaran suaranya paling keras diantara penumpang semuanya.Lalu Diaz murid yang berperawakan tinggi besar yang dari tadi sibuk moto-moto, menghampiriku dan menagarahkan kameranya ke arah kami.”Siap…action ” katanya sambil senyum manja.

gedungKira-kira jam sebelas kurang lima belas menit, kami tiba di depan Musieum Biologi Siriraj.Kami mulai menelusuri bangunan yang ditempati berbagai jenis binatang yang sudah di keringkan atau dimumi, mulai dari laba-laba, ular, berbagai jenis ikan, cacing pita dan sebagainya.Pak Solihin tidak henti-hentinya menjelaskan kepada kami apa yang kami tidak mengerti berkaitan dengan Ilmu Biologi.

Selanjutnya kami sempat beradu argumen dulu sebentar sebelum menuju ke gedung selanjutnya yang katanya meyeramkan.

“Pak ga usah ke sana lah. Kita pulang aja yuk!” Kata Tyar setengah memelas. “Lho, kamu ini gimana toh ndo.katanya siap menghadapi semuanya. ko mundur sebelum bertempur.” kata temanku sambil menghampiri Tyar, sehingga berhadap-hadapan. “Sudah, kita coba aja, niatkan untuk belajar, dan jangan lupa tentunya berdo’a pada Allah, karena Allah lah satu-satunya tempat  untuk kita meminta perlindungan selama-lamanya.” Kataku menirukan ucapan seorang Kyai yang mengajari santrinya. “iya Pa Ustadz” Ucap Tyar dengan sedikit berguyon,tapi kelihatan sudah mulai tenang dan semangat lagi. “Tapi saya ingin dekat Bapa supaya sering diingatkan” lanjutnya manja. “iya, boleh” Jawabku singkat.

Selanjutnya kami masuk ke gedung dimana disimpannya berbagai anatomi tubuh manusia asli yang sudah diawetkan.Mulai dari tengkorak kepala yang utuh atau yang retak karena kecelakaan, tulang kaki, tulang tangan, bayi yang meninggal di dalam kandungan, bayi yang meninggal karena aborsi sampai pada bagian-bagian yang vital dari tubuh kita.

“Pak serem ya” kata Tyar sambil mendekatiku, ketika melihat sosok tubuh manusia utuh kaku di dalam kotak kaca. “Terus, menurut bapa ini gimana hukumnya?” lanjut tyar serius. “Ya kalau menurut saya, kita harus melihat niatnya.kalau niatnya hanya untuk kesenangan, jelas itu haram karena itu adalah aurat. tapi kalau niatnya untuk pengetahuan dan kesehatan itu ada kemurahan syara atau hukum.” jawabku sambil mengingat sebuah buku Fikih karangan Masfuk Zuhdi, yang membahas persoalan fikih kontemporer, di diantaranya memuat hadits yang mengharamkan melihat aurat walaupun sesama jenis. “Oh gitu toh pa, ngartos…ngartos” ucap tyar dengan sedikit guyon dengan bahasa sunda yang seadanya sambil manggut-manggut tersenyum. “kamu bisa bahasa sunda yar?” Tanyaku sedikit heran. “ya cuma itu pa, itu juga dari Nilam, dia kan orang Tanggerang.” “Oh…. begitu.” Kataku sambil terus mengamati berbagai organ tubuh manusia yang ada di ruangan tersebut.Sayangnya kita tidak boleh memfoto semua yang ada di musieum tersebut.

Selanjutnya kami masuk ke sebuah ruangan yang ditempati oleh dua orang sejarawan yang berstatus suami istri, yang setia menjelaskan kepada kami semua benda-benda bersejarah yang ada di ruangan tersebut.

“Bahasa Inggrisnya bagus ya pa?” bisik Tyar ketika mendengar penjelasan dari salah seorang penjaga ruangan itu. “iya, tumben ya ada orang Thai yang bahasa Inggrisnya fasih.” jawabku mengiyakan.Karena kenyataan yang sering dialami oleh kami di Bangkok husunya,adalah kendala bahasa.Ketika kita berbicara bahasa inggris, orang thai tidak mengerti. dan ketika mereka bicara bahasa thai kitanya yang tidak mengerti.Jadi akhirnya kita sering memakai bahasa isyarat.

Bersambung……….

2 Responses

  1. Kisah yang sangat menarik. Tapi andai boleh saya usul, potonya ditambah dengan poto2 yang merekam suasana di dalam musium, berikut poto2 koleksi gedung tersebut yang dalam kisah ini diceritakan, biar pembaca tidak penasaran. OK?

  2. Terima kasih sarannya. Namun seperti saya ceritakan kita dilarang mengambil photo semua yang ada di musieum tersebut.Tapi untuk suasana di luar onsya Allah kedepan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: