Istito’ah dalam Ibadah Haji

hajjiHari jum’at 28 November 2008 jam 20.00 waktu Bangkok, adalah hari yang sangat bersejarah bagi kang Dikky dan teman-teman calon haji dari Indonesia yang mukim di bangkok, karena hari itu hari yang ditunggu-tunggu untuk melangkahkan kaki  menuju panggilan Allah yaitu Ibadah haji dan Umrah di Makkah al-Mukarromah .

Beberapa hari sebelumnya , mereka sempat sock dan gundah bercampur sedih, megingat kondisi politik Thailand yang tidak menentu, terutama didudukinya bandara Svarnabhumi, bandara yang akan disinggahi pesawat Egypt Air yang akan membawa mereka untuk menuju Makkah.

Bebarapa jam sebelum keberangkatan saya sempat ngobrol dengan ibu Putri seorang calon Doktor di universitas Mahidol salah seorang calon haji temannya kang Dikky di depan kantor guru:

“Bagaimana bu perkembangannya?Ada info baru tentang keberangkatan kita?” Tanya saya .”keputusannya nanti habis jum’atan, pak.Doakan saja semoga lancar semuanya.” jawab Bu Putri. “Iya bu, kalaupun tidak jadi berangkat berarti kita belum istito’ah, karena istito’ah itu mencakup keamanan dan kenyamanan di jalannya.”Kata saya sedkit menenangkan.

Menurut Imam Al-Ghazali dalam ringkasan Ihya Ulumuddin dijelaskan bahwa istito’ah itu ada dua macam :

Pertama ; Melaksanakan sendiri, hal ini ada beberapa sebabnya :a.)dalam dirinya sendiri yaitu harus dalam keadaan sehat. 2.)Dalam jalannya yaitu perjalanan dari tempatnya sendiri ke tempat ibadah haji adalah dalam keadaan aman dan sentausa tanpa dihalang-halangi oleh lautan yang membahayakan atau dihadang oleh musuh yang mengacaukan. 3.)dalam harta yaitu hendaklah ia memiliki nafkah yang dapat digunakan untuk bekal pergi dan pulang dari dan ke tanah airnya, juga memiliki nafakah untuk orang yang menjadi tanggungannnya untuk menafkahi mereka selama ditinggalkan, hendaknya pula memiliki harta yang dapat dipakai untuk mengembalikan hutangnya, sekiranya ia mempunyai hutang dan mampu pula berkendaraan atau menyewa kendaraan dengan ditandu atau binatang sekiranya ia menggunakan binatang itu.

Kedua : istito’ahnya seorang yang lumpuh dengan menggunakan hartanya. Caranya ialah supaya menyewa seseorang untuk beribadat haji yang ditujukan untuk dirinya sendiri. Orang yang disewa ini haruslah orang yang sudah selesai berhaji untuk dirinya sendiri. Barangsiapa kuasa sperti itu wajiblah ia berhaji itu, tapi boleh pula mengakhirkannya, hanya saja mungkin ada bahanya. Apabila seseorang itu mempunyai kelapangan (kecukupan, sekalipun diakhir usianya, maka kewajiban itu tetap menjadi tanggungannya.

Selanjutnya barangsiapa yang sudah ada kelapangan untuk beribadah haji, tetapi belum juga melaksanakannya, kemudian meninggal dunia, maka ia akan menemui Allah sebagai seorang yang bermaksiat sebab ia meninggalkan haji itu. Untuk orang yang demikian haruslah dihajikan dengan menggunakan harta peniggalannya, sekalipun ia tidak memberikan wasiat untuk itu. Jadi seperti hutang yang menjadi tanggungannya.

3 Responses

  1. Terima kasih atas dipostingnya tulisan ini, wawasanku jadi bertambah pada hari ini. Dan bagaimana keaadan Ayi beserta teman-teman di Bangkok? Semoga baik-baik saja, tidak terpengaruh oleh situasi yang beritanya sempat membuat khawatir saya dan saudara saudara Ayi di tanah air.

  2. Alhamdulillah kami WNI di Bangkok aman-aman saja. Oh iya Para calon haji WNI yang ada di Bangkok terpaksa menempuh jalan darat ke Phuket dulu untuk selanjutnya terbang langsung ke Jeddah.

  3. Alhamdulillah, semoga saudara-saudara kita itu menjadi haji mambrur, amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: