Pikulan Cilok itu Sumbangan Majlis Taklim KBRI Bangkok

Arief Farihan Kamil  |  Sabtu, 26 September 2009
Sumber: Priangan Online

P2170176HANYA alat pikulan sederhana. Harganya tak lebih dari Rp 300.000. Namun sarana berdagang yang terbuat dari kayu dan seng bantuan Majelis Taklim Kedutaan Besar RI Bangkok di Thailand itu justru menjadi penyambung nafas kehidupan Maman (37) dan keluarganya. “Kini saya bisa menafkahi keluarga lagi,” kata pria berkulit legam tersebut, Jumat (25/9).
Maman adalah salah seorang korban bencana gempa bumi yang mengguncang Jawa Barat pada awal September lalu. Rumahnya di RT 04/03 Blok Cisepet, Dusun Nanggewer, Desa Jelat, Kec. Baregbeg, Kab. Ciamis, luluh lantak. Gempa memang telah menjungkirkan kehidupan saat ini dan masa depan. Seisi rumah seperti peralatan rumah tangga hingga peralatan dapur, ludes. Kompor penyok, katel bolong, tiga lusin gelas di lemari pecah.

Padahal di rumah berukuran 6 m x 8 m itu ia tinggal bersama lima anggota keluarga lainnya.
Selain ayahnya, Sarbini (65) dan ibunya, Ny. Asinah (64), Maman juga mempunyai tanggungan istri dan dua anak, kelas 3 SD serta usia 1,5 tahun. Maklum, ayahnya yang kadang menjadi buruh cangkul lebih sering menganggur. Saat ini keluarga tersebut menumpang di rumah panggung kecil milik tetangganya, Ny. Yati (35).

Sebelum musibah datang, memang Maman berjualan cilok, cireng, makaroni goreng atau cemilan khas anak-anak lainnya. Karena pikulan untuk berjualan cilok itu hancur tertimpa reruntuhan rumah, ia sempat menganggur. Untuk keperluan makan keluarga, keluarga itu mengandalkan bantuan dari dermawan, tetangga serta sedikit dari pemerintah. Tentu, bila tak ada bantuan lagi, ketersediaan beras dan sembako akan habis dalam tempo kurang dari sebulan. “Tadinya saya bingung, kira-kira sebulan ke depan keluarga saya bisa makan atau enggak, ya,” imbuh Maman.

Musibah yang menimpa keluarga berstatus di bawah garis kemiskinan itu sempat muncul di HU Priangan dan situs http://www.prianganonline.com. Kebetulan, sejumlah anggota Majelis Taklim KBRI di Negeri Gajah Putih itu sempat membacanya. Pada saat yang sama majelis taklim yang diketuai Atase Kejaksaan RI di KBRI Bangkok, Darmawel Aswar, SH, MH, sedang menggalang dana untuk sumbangan gempa hingga terkumpul dana zakat maal, infak dan shadaqah sekitar Rp 63.350.000. Akhirnya, dana zakat sebesar Rp 50 juta disumbangkan untuk daerah gempa di Kab. Cianjur, sedangkan dana infak, shadaqah ditambah kas masjid sebesar Rp 13.350.000 untuk korban gempa di Ciamis.

Melalui salah seorang pengurusnya, Wawan Anwar Sadat, SPdI, Maman diberi dana bantuan sebesar Rp 500 ribu. Sebesar Rp 300 ribu untuk membuat pikulan, sisanya untuk modal bahan-bahan makanan. Dana lainnya diberikan masing-masing sebesar Rp 100.000 kepada sekitar 120 keluarga korban gempa yang rumahnya mengalami kerusakan parah di Kampung Cisepet, Kampung Nanggewer (Dusun Nanggewer), Cisagu (Dusun Mekarmulya) di Desa Jelat Kec. Baregbeg, Dusun Mekarsari Desa Kiarapayung (Kec. Rancah), Ciheot Desa Pusakanagara (Kec. Baregbeg), Sukaharja Desa Petirhilir (Kec. Baregbeg), Babakan Desa Karangampel (Kec. Baregbeg) dan Karangsari Desa Putrapinggan (Kec. Kalipucang). Ada pula sejumlah masjid korban gempa dan nenek jompo.

Awalnya, Anwar yang juga guru di Sekolah Indonesia Bangkok di Komplek KBRI Bangkok itu merasa keberatan dititipi amanah uang oleh jemaah pengajian. Namun ia akhirnya bersedia setelah diyakinkan istrinya, Ny. Aas Hikayat SAg, supaya menggandeng media saja. “Sebagai pertanggungjawabannya, saya tentu harus mengabarkan hal ini kepada pada dermawan di Bangkok melalui media. Jadi pemberitaan ini pun sama sekali bukan dimaksudkan untuk riya, tapi sebagai bentuk mengemban kepercayaan bahwa sumbangan telah sampai kepada yang berhak,” kata Anwar.

Meski jumlahnya tergolong tidak besar, sumbangan uang tunai tersebut sangat diterima warga korban gempa. Pun, pada hari pertama dan kedua Lebaran, Maman langsung membuat pikulan cilok. Pada hari ketiga Lebaran, Selasa (22/9), ia bisa berdagang lagi. Menurut Maman, meski masih libur sekolah, hasil ngider hari pertama sekitar mulai pukul 07.00-17.00 di wilayah Desa Jelat itu dirinya bisa mengantongi pendapatan kotor sebesar Rp 50.500. Sedangkan hari berikutnya Rp 45.000.

Kini, oleh para konsumennya, cilok maman disebut cilok Bangkok atau cireng KBRI. “Saya mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah memberikan bantuan sehingga saya punya mata pencaharian lagi. Kalau masalah rumah mah saya belum tahu bagaimana, karena bantuan dari pemerintahnya pun belum jelas,” imbuh Maman sembari melangkah membunyikan kentongan bambu khas suara dagang cilok.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: